Perbandingan Mobil Listrik vs Mobil Bensin dari Segi Biaya Operasional, Pajak, dan Perawatan

Perbandingan mobil bensin dengan mobil listrik

Lebih Hemat Mana Mobil Listrik Dibandingkan Mobil Bensin?

Industri otomotif di Indonesia tengah mengalami masa transisi yang sangat signifikan. Keputusan konsumen untuk beralih dari mobil berbahan bakar bensin (Internal Combustion Engine/ICE) menuju mobil listrik (Electric Vehicle/EV) tidak lagi sekadar didasarkan pada tren teknologi atau kepedulian lingkungan, melainkan bergeser pada kalkulasi rasionalitas ekonomi. Bagi konsumen modern, memahami perbandingan mobil listrik dan mobil bensin harus dilakukan melalui kacamata finansial jangka panjang.

 

Seringkali, calon pembeli hanya melihat selisih harga beli (On The Road/OTR) di diler. Padahal, metrik yang paling akurat untuk menentukan kendaraan mana yang lebih ekonomis adalah Total Cost of Ownership (TCO) atau Total Biaya Kepemilikan. TCO mencakup seluruh pengeluaran mulai dari kendaraan tersebut dibeli, dioperasikan sehari-hari, dirawat secara rutin, dibayar pajaknya, hingga akhirnya dijual kembali.

 

Memasuki tahun 2026, langkap regulasi dan infrastruktur telah banyak berubah. Artikel ini akan membedah secara analitis dan mendalam mengenai komparasi biaya sesungguhnya antara mobil listrik versus mobil bensin di Indonesia.

 

Memahami Konsep Total Cost of Ownership (TCO)

Sebelum masuk ke angka spesifik, penting untuk memahami bahwa struktur biaya antara mobil listrik dan mobil bensin memiliki karakteristik yang berlawanan. Mobil bensin umumnya memiliki harga beli yang sedikit lebih terjangkau untuk segmen menengah ke bawah, namun memiliki kurva biaya operasional yang terus menanjak seiring bertambahnya usia kendaraan dan akumulasi jarak tempuh. Hal ini disebabkan oleh tingginya harga bahan bakar minyak dan banyaknya komponen bergerak (moving parts) yang berpotensi aus.

 

Di sisi lain, mobil listrik seringkali menuntut modal awal (Capital Expenditure) yang lebih tinggi karena tingginya biaya produksi baterai. Namun, mobil listrik menawarkan kurva biaya operasional (Operational Expenditure) yang sangat landai. Semakin jauh dan semakin sering mobil listrik digunakan, semakin cepat pula pemiliknya mencapai titik impas (Break Even Point) dari selisih harga beli awalnya. Pemahaman akan konsep inilah yang menjadi fondasi utama dalam membandingkan mobil listrik vs bensin hemat mana.

 

Analisis Konsumsi Energi: Listrik vs Bahan Bakar Minyak (BBM)

Biaya energi adalah komponen pengeluaran terbesar kedua setelah depresiasi kendaraan. Pada sektor ini, efisiensi termal menjadi penentu utama. Mesin pembakaran dalam (ICE) memiliki efisiensi termal yang relatif rendah, di mana hanya sekitar 20% hingga 30% dari energi bahan bakar yang benar-benar diubah menjadi gerak mekanis. Sebaliknya, motor listrik memiliki tingkat efisiensi konversi energi mencapai 85% hingga 90%.

 

Untuk memberikan gambaran yang berimbang, mari kita simulasikan dua skenario penggunaan BBM pada mobil bensin: menggunakan BBM Non-Subsidi (RON 92) dan BBM Bersubsidi (RON 90), kemudian membandingkannya dengan mobil listrik.

Kita gunakan asumsi jarak tempuh rata-rata tahunan sebesar 15.000 kilometer.

 

Skenario 1: Kalkulasi Kendaraan Bensin (BBM Non-Subsidi)

Asumsikan sebuah mobil bensin kelas menengah memiliki efisiensi bahan bakar rata-rata 12 kilometer per liter. Jika menggunakan BBM non-subsidi dengan harga di kisaran Rp16.500 per liter, maka biaya operasional energinya adalahRp1.375 per kilometer.

 

Rumus: 15.000 km / 12 km/liter x Rp16.500

Total Biaya Energi Tahunan: Rp20.625.000

 

Skenario 2: Kalkulasi Kendaraan Bensin (BBM Bersubsidi)

Bagaimana jika pemilik kendaraan bensin menggunakan BBM bersubsidi (seperti Pertalite) yang harganya dipatok Rp10.000 per liter? Dengan efisiensi mesin yang sama (12 km/liter), biaya operasional energinya turun menjadi Rp833 per kilometer.

Rumus: 15.000 km / 12 km/liter x Rp10.000

Total Biaya Energi Tahunan: Rp12.500.000

 

Kalkulasi Kendaraan Listrik (EV)

Untuk mobil listrik dengan kapasitas baterai rata-rata 60 kWh, efisiensi daya yang umum dicapai adalah sekitar 7 kilometer per kWh. Jika pemilik melakukan pengisian daya (charging) di rumah secara dominan, menggunakan asumsi tarif dasar listrik moderat-campuran di Rp2.000 per kWh, maka biaya operasional energinya hanya Rp285 per kilometer.

Rumus: 15.000 km / 7 km/kWh x Rp2.000

Total Biaya Energi Tahunan: Rp4.285.000

 

Kesimpulan Energi: Meskipun mobil bensin dipaksakan menggunakan BBM bersubsidi sekalipun (Rp12.500.000 per tahun), mobil listrik (Rp4.285.000 per tahun) tetap memberikan penghematan biaya energi yang masif, yakni selisih sebesar Rp8.215.000 setiap tahunnya.

 

Jika dibandingkan dengan BBM non-subsidi, penghematannya melonjak hingga lebih dari Rp16.000.000 per tahun. Angka ini membuktikan bahwa efisiensi daya pada motor listrik sulit ditandingi oleh mesin pembakaran konvensional, bahkan ketika dikomparasikan dengan bahan bakar yang disubsidi oleh pemerintah.

 

Komparasi Biaya Perawatan (Maintenance) Tahunan

Biaya servis mobil listrik dan mobil bensin memiliki perbedaan fundamental yang berasal dari arsitektur mekanisnya.

 

Mobil bensin digerakkan oleh mesin yang terdiri dari ratusan komponen bergerak. Gesekan antar komponen ini membutuhkan pelumasan yang konstan dan pembakaran membutuhkan penyaringan udara dan bahan bakar. Oleh karena itu, mobil bensin memiliki jadwal servis rutin yang sangat ketat (umumnya per 10.000 km atau 6 bulan). Pemilik harus mengeluarkan dana untuk penggantian oli mesin, filter oli, filter udara, busi, air radiator, belt mesin, hingga kampas rem (yang lebih cepat aus karena tidak ada sistem regenerative braking yang dominan). Estimasi biaya perawatan mobil bensin di bengkel resmi berkisar antara Rp6.000.000 hingga Rp10.000.000 per tahun tergantung merek dan model.

 

Sebaliknya, arsitektur mobil listrik sangat sederhana. Motor listrik hanya memiliki segelintir komponen bergerak. Tidak ada proses pembakaran, sehingga tidak butuh oli mesin, busi, atau sistem pembuangan (knalpot). Perawatan berkala mobil listrik utamanya berfokus pada:

  • Inspeksi sistem kelistrikan dan pemindaian software (diagnostik baterai).
  • Penggantian filter kabin (AC).
  • Pengisian atau penggantian coolant (cairan pendingin) baterai pada interval yang sangat panjang (biasanya per 60.000 km).
  • Rotasi ban dan pengecekan suspensi (karena torsi EV yang instan dan bobot baterai yang berat membuat ban lebih cepat aus). Karena minimnya komponen yang diganti, rata-rata biaya perawatan mobil listrik di Indonesia hanya berkisar antara Rp2.000.000 hingga Rp4.000.000 per tahun.

 

Dinamika Regulasi dan Aturan Pajak EV Terbaru 2026

Faktor regulasi adalah salah satu variabel yang paling dinamis dalam kalkulasi TCO. Pada era awal perkenalan mobil listrik, pemerintah memberikan insentif pajak yang sangat agresif hingga membebaskan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) menjadi 0% secara nasional. Namun, seiring dengan target penerimaan daerah, aturan pajak mobil listrik 2026 mengalami penyesuaian.

 

Sesuai dengan turunan kebijakan dan penyesuaian dari Kementerian Dalam Negeri, lanskap pajak pada tahun 2026 membawa beberapa implikasi:

  • Koefisien Bobot Dinormalkan: Sebelumnya, insentif bobot diberikan untuk mobil listrik. Namun di 2026, karena bobot mobil listrik terbukti nyata memberikan beban keausan pada infrastruktur jalan (bahkan lebih berat 20-30% dibanding mobil bensin setara karena berat baterai), koefisien pengali pajaknya mulai disetarakan.
  • PKB Menjadi Otoritas Daerah: Tarif 0% untuk PKB tidak lagi menjadi mandatori nasional. Pemerintah Provinsi diberikan keleluasaan untuk menentukan besaran diskon PKB. Hal ini berarti pemilik EV di satu provinsi mungkin masih menikmati pajak tahunan Rp0 atau Rp500.000, sementara di provinsi lain bisa dikenakan pajak tahunan sebesar Rp2.000.000 hingga Rp3.000.000 (meski angka ini masih lebih murah dibandingkan mobil bensin dengan nilai jual yang sama yang bisa mencapai Rp6.000.000 - Rp8.000.000).
  • BBNKB (Bea Balik Nama): Insentif pembebasan BBNKB untuk penyerahan pertama masih banyak dipertahankan di berbagai daerah untuk terus merangsang adopsi kendaraan elektrifikasi.

Meskipun "masa bulan madu" pajak Rp0 perlahan berakhir di tahun 2026, nilai pajak EV secara akumulatif tetap lebih kompetitif dibandingkan pajak progresif dan tarif dasar mobil bensin berkubikasi besar.

 

Kalkulator Penghematan EV vs Bensin

Kalkulator Komparasi Biaya Energi: EV vs Bensin

Geser tuas di bawah ini untuk melihat estimasi penghematan pengeluaran energi tahunan secara langsung.

Total Penghematan Energi per Tahun Rp 0